Tampilkan postingan dengan label Asuransi Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asuransi Jiwa. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 September 2023

Reinsurance Asuransi Jiwa di Indonesia







Kategori : Asuransi Jiwa
Oleh : Pentradr

Sebagai kelanjutan pembahasan tentang Reinsurance sebelumnya pada postingan berjudul: Mengenal Reinsurance , pada bagian kali  ini kita akan membahas singkat tentang  Reinsurance khususnya di bidang Asuransi Jiwa di Indonesia.

Reinsurance Asuransi Jiwa

Reinsurance adalah suatu perjanjian asuransi di mana perusahaan asuransi utama (cedent) menyerahkan sebagian atau seluruh risikonya kepada perusahaan asuransi lain (reinsurer). Reinsurance dapat dilakukan oleh perusahaan asuransi jiwa untuk memperluas kapasitas, mengurangi risiko, dan meningkatkan profitabilitas.

Pentingnya Reinsurance Asuransi Jiwa

Reinsurance asuransi jiwa penting untuk perusahaan asuransi jiwa karena beberapa alasan, yaitu:

  • Memperluas kapasitas

Reinsurance dapat membantu perusahaan asuransi jiwa untuk memperluas kapasitasnya untuk menerbitkan polis asuransi jiwa. Hal ini penting karena permintaan akan asuransi jiwa terus meningkat, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

  • Mengurangi risiko

Reinsurance dapat membantu perusahaan asuransi jiwa untuk mengurangi risikonya. Hal ini karena reinsurer memiliki pengalaman dan keahlian yang lebih luas dalam mengelola risiko asuransi jiwa.

  • Meningkatkan profitabilitas

Reinsurance dapat membantu perusahaan asuransi jiwa untuk meningkatkan profitabilitasnya. Hal ini karena reinsurer biasanya mengenakan biaya yang lebih rendah daripada perusahaan asuransi jiwa untuk menanggung risiko yang sama.




Jenis-Jenis Reinsurance Asuransi Jiwa

Ada beberapa jenis reinsurance asuransi jiwa, yaitu:

  • Fakultatif reinsurance

Fakultatif reinsurance adalah perjanjian reinsurance yang tidak mengikat. Perusahaan asuransi utama dapat memilih untuk menyerahkan risikonya kepada perusahaan asuransi lain sesuai dengan kebutuhannya.

  • Obligatori reinsurance

Obligatori reinsurance adalah perjanjian reinsurance yang mengikat. Perusahaan asuransi utama harus menyerahkan risikonya kepada perusahaan asuransi lain sesuai dengan ketentuan perjanjian.

  • Proportional reinsurance

Proportional reinsurance adalah perjanjian reinsurance di mana perusahaan asuransi utama menyerahkan sebagian risikonya kepada perusahaan asuransi lain.

  • Non-proportional reinsurance

Non-proportional reinsurance adalah perjanjian reinsurance di mana perusahaan asuransi utama menyerahkan seluruh risikonya kepada perusahaan asuransi lain.




Perkembangan Reinsurance Asuransi Jiwa di Indonesia

Reinsurance asuransi jiwa di Indonesia telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini seiring dengan meningkatnya permintaan akan asuransi jiwa di Indonesia.

Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai premi reinsurance asuransi jiwa di Indonesia mencapai Rp 10,9 triliun pada tahun 2022. Angka ini meningkat sebesar 12,5% dari tahun sebelumnya.




Peran Pemerintah dalam Reinsurance Asuransi Jiwa

Pemerintah Indonesia berperan dalam mendukung perkembangan reinsurance asuransi jiwa di Indonesia. Hal ini dilakukan melalui beberapa kebijakan, antara lain:

  • Meningkatkan regulasi yang mendukung

Pemerintah telah mengeluarkan beberapa regulasi yang mendukung perkembangan reinsurance asuransi jiwa, antara lain Peraturan OJK Nomor 69/POJK.05/2016 tentang Reinsurance.

  • Mendukung pengembangan pasar

Pemerintah juga mendukung pengembangan pasar reinsurance asuransi jiwa di Indonesia. Hal ini dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga internasional, seperti Swiss Re Institute dan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI).




Jadi kesimpulannya Reinsurance asuransi jiwa adalah suatu instrumen penting yang dapat digunakan oleh perusahaan asuransi jiwa untuk memperluas kapasitas, mengurangi risiko, dan meningkatkan profitabilitas. Pemerintah Indonesia mendukung perkembangan reinsurance asuransi jiwa di Indonesia melalui regulasi dan kerja sama dengan lembaga internasional.

 

baca juga : Mengenal Reinsurance

Jumat, 31 Mei 2019

Klaim Surrender Bagi Nasabah, Agen Dan Perusahaan Asuransi Dalam Asuransi Jiwa




oleh : Ravenna





Pada kuartal pertama di tahun 2019 ini, nasabah saya yang memilih melakukan surrender terhadap polis asuransi jiwanya, total ada 5 buah polis dengan waktu yang hampir bersamaan. Dan masing-masing polis tersebut belum bisa memberi imbal hasil yang baik untuk investasinya. Dari alasan yang dikemukakan mengapa mereka memutuskan untuk melakukan surrender adalah kebutuhan akan uang tunai

Menarik untuk dicermati tentang permasalahan surrender ini, surrender bukanlah hal yang menguntungkan dan membawa manfaat, namun lebih merugikan bagi masing-masing pihak yang terlibat, tidak hanya bagi nasabah sendiri, bagi perusahaan asuransi, juga bagi seorang agen asuransi. Bagaimana tidak bagi nasabah, diawal saat memulai membuka polis asuransi jiwa dengan maksud untuk memperoleh proteksi sekaligus manfaat berupa profit dari hasil investasi dalam satu paket yang disebut dengan produk asuransi jiwa unit link.





Namun seiring berjalannya waktu, maksud yang semula ini dilupakan karena terdesak kebutuhan akan uang saat itu, dan karena faktor-faktor lain yang mengarahkan pada pilihan untuk berhenti melanjutkan membayar premi dan menutup polisnya. Dikarenakan usia polisnya yang masih terlalu dini untuk bisa memberi imbal hasil yang memuaskan, jelas membawa pengaruh pada hasil yang diterima nasabah yang jumlahnya kecil dari harapannya semula. Bagi perusahaan asuransi sendiri jika surrender tergolong tinggi, ini dinilai ‘kurang sehat’ buat kelangsungan perusahaan. Sedangkan bagi seorang agen asuransi, surrender jelas membawa pengaruh persistensi, jika persistensi tinggi bisa menghambat laju karir sang agen untuk melangkah ke jenjang lebih tinggi dalam struktur level manajerial, karenanya penting bagi seorang agen untuk tetap menjaga persistensi nasabah agar tetap rendah.

Dalam majalah INVESTOR edisi April 2018 Windarto menulis, Surrender atau klaim nilai ditebus asuransi jiwa terbilang tinggi dari tahun ke tahun. Pada saat terjadi krisis atau bursa sedang lesu, klaim jenis ini pun masih jadi klaim terbesar. Begitu pun ketika bursa sebaliknya, angka klaim ini masih besar. Berdasarkan catatan AAJI perkuartal empat 2017, klaim nilai tebus mengambil porsi 55,6% dari total klaim dan manfaat yang dibayarkan industri asuransi jiwa.





Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu menyebut beberapa kemungkinan atau alasan mengapa polis ditebus masih banyak terjadi. Selain faktor kebutuhan dana tunai, banyak di antara pemegang polis tidak memahami produk yang dibelinya. “Dalam arti dia membeli produk asuransi tapi tidak sesuai dengan yang dibutuhkan,” terangnya. Biasanya polis ditebus terjadi pada produk-produk tradisional yang dikaitkan dengan investasi, walaupun ada juga produk non tradisional yang melakukan penebusan polis.

Berbeda dengan penebusan polis, pilihan yang lebih bijak adalah penarikan sebagian (partial withdrawal). Dengan penarikan sebagian, polis nasabah masih aktif dan perlindungan asuransi masih berlaku. Di sisi lain, dengan penarikan sebagian, sebagai investor, pemegang polis dapat memanfaatkan momentum naik turunnya bursa saham untuk memperoleh keuntungan dari investasi. Kendati tidak sebesar klaim surrender, klaim jenis ini pun terbilang tinggi karena tercatat sebesar Rp 17,49 triliun naik dari Rp 13,57 triliun atau tumbuh 28,9%. Klaim jenis ini menempati urutan kedua terbesar setelah klaim penebusan polis. Umumnya klaim-klaim jenis ini terjadi pada produk unit link. Produk unit link memiliki fleksibilitas dalam menambah dana investasi (top up) maupun untuk menarik sebagian dana tersebut.


Presiden Direktur PT  Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) Jens Reisch mengakui banyak klaim-klaim penarikan sebagian karena untuk ambil untung memanfaatkan momentum bursa yang sedang bullish. Prudential Indonesia sepanjang 2017 membayarkan klaim dan manfaat sebesar Rp 12,3 triliun. “Paling besar pay out adalah profit taking. Saya lihat fenomena kalau bursa naik 20% nasabah akan ambil. Dari beberapa season seperti ini,” ujar Jens. Dijelaskan Jens, Prudential Indonesia sudah 23 tahun beroperasi di Indonesia dan memiliki nasabah 3,5 jutaan. “Kalau nasabah sudah 10-20 tahun memegang polis, kenaikan 20% (investasi) itu sudah lumayan signifikan (hasilnya). Kita sangat senang karena mayoritas nasabah tidak surrender,” lanjut Jens.

Beberapa produk unit link Prudential tahun 2017 mencatat imbal hasil di atas 20%, diantaranya malah mencatat imbal hasil tertinggi yakni Prulink Rupiah Indonesia Greater China Equity Fund dan US Dollar Indonesia Greater China Equity Fund serta Syariah Rupiah Asia Pasific Equity Fund, selama 2017 ketiga unit link offshore tersebut meraih imbal hasil tertinggi di antara unit link lain yang ada di Prudential Indonesia, dengan imbal hasil masing-masing 25,05%, 24,01% dan 26,56%.

(SG)-Cisauk, 30 Mei 2019